Aneka Tips

Selasa, 10 April 2012

Uji Glukosa Dalam Makanan (Tes Benedict)



Alat dan Bahan:
-          Larutan Gula
-          Larutan benedict
-          Pembakar spirtus
-          Kasa baja
-          Gelas beaker
-          Tabung reaksi


Langkah kerja:
1.       Masukkan beberapa tetes larutan gula ke dalam tabung reaksi.
2.       Tambahkan beberapa tetes larutan benedict.
3.       Panaskan campuran larutan di tabung reaksi menggunakan gelas beaker berisi air di atas pembakar spiritus selama 1-2 menit. Amatilah warna larutan dalam tabung reaksi.


Apa yang terjadi?
Setelah pemberian larutan benedict dan pemanasan, larutan gula menjadi berwarna jingga (merah bata). Ini berarti bahan makanan yang di uji mengandung glukosa.


Perlu Anda ketahui
Karbohidrat merupakan zat makanan yang menghasilkan energi dalam jumlah besar. Karbohidrat dapat ditemukan pada bahan makanan seperti nasi, kentang, gandum, singkomg, dan jagung. Satu gram karbohidrat dapat mengahsilkan energi sebesar 4,1 kalori.
Karbohidrat adalah senyawa yang tersusun atas unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Karbohidrat terbentuk dari gula kompleks (polisakarida dan disakarida) dan gula sederhana (monosakarida). Polisakarida memiliki gugusan gula lebih dari dua, misalnya amilum dan selulosa. Disakarida memiliki gugusan gula  berjumlah dua, misalnya sukrosa dan maltosa. Sedangkan monosakarida hanya memiliki satu gugusan gula , misalnya glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Glukosa banyak dijumpai pada bahan makanan karena rasanya manis.
Karbohidrat dirombak menjadi gula yang lebih sederhana agar mudah diserap oleh tubuh. Jadi, dalam sistem pencernaan kita terdapat enzim yang dapat emngubah gula kompleks (polisakarida dan disakarida) menjadi gula sederhana (monosakarida). Misalnya proses perubahan salah satu polisakarida, yaitu amilum. Amilum akan dipecah menjadi maltosa (disakarida) denagn bantuan enzim amilase. Kemudian maltosa dipecah lagi menjadi glukosa (monosakarida) dengan bantuan enzim maltase. Bentuk glukosa inilah yang akan diserap oleh tubuh. Jika kita memakan karbohidrat (glukosa) berlebihan, glukosa akan disimpan di hati dalam bentuk glikogen atau diubah menjadi lemak dan disimpan di bawah kulit.

Ada beberapa larutan penting yang sangat lumrah dipakai oleh guru-guru di sekolah baik tingkat SMP maupun SMP, untuk mata pelajaran IPA-Biologi atau IPA-Kimia pada percobaan uji bahan makanan. Beberapa larutan yang biasa dipakai itu misalnya: (1) larutan Benedict; (2) Larutan Biuret; (3) Larutan Fehling A dan Fehling B; (4) Larutan Lugol.
Berikut adalah cara-cara untuk membuat larutan-larutan tersebut:
Larutan Benedict
Larutan Benedict digunakan untuk menguji adanya kandungan glukosa dalam suatu bahan (makanan). Adanya glukosa dalam bahan ditandai dengan warna merah bata. Cara membuat larutan Benedict yaitu:
(1) Larutkan 173 gram natrium sitrat dan 100 gram natrium karbonat ke dalam 600 ml air suling.
(2) Panaskan hingga larut, kemudian saring.
(3) Larutkan 17,3 gram kupri sulfat ke dalam 150 ml air suling.
(4) Secara perlahan-lahan, tambahkan larutan kupri sulfat ke dalam larutan natrium sitrat-natrium karbonat. Aduk terus-menerus.
(5) Tambahkan air suling sehingga mencapai volume 1 L.
Larutan Biuret
Larutan Biuret dipakai untuk menguji adanya kandungan protein dalam suatu bahan (makanan).
Cara membuat larutan Biuret yaitu:
(1) Larutan perusi/terusi atau CuSO4 (kupri sulfat) seberat 1 gram ke dalam air suling 99 gram. Wadahilah dalam botol tersendiri.
(2) Larutkan 20 gram NaOH dalam air suling 80 gram. Wadahi dalam botol terpisah.
Cara Penggunaan: Zat yang akan diuji ditetesi dulu dengan larutan NaOH, baru setelah beberapa saat ditetesi dengan larutan perusi. Adanya protein ditandai dengan perubahan warna bahan menjadi ungu.
Larutan Fehling
Cara membuat:
(1) untuk membuat fehling A, larutkan 34,6 gram kristal CuSO4 (kupri sulfat/terusi/perusi) dalam 500 ml air suling. Jika larutan kurang jernih, dapat ditambahkan beberapa tetes asam sulfat pekat.
(2) untuk membuat fehling B, larutkan 77 gram KOH ke dalam 500 ml air suling. Kemudian tambahkan kalium natrium tartrat sebanyak 175 gram, aduk sampai semuanya larut.
(3) Fehling A dan Fehling B disimpan dalam botol terpisah. Keduanya dapat dicampur dengan perbandingan yang sama saat akan digunakan. Larutan Fehling digunakan untuk menguji gula pereduksi.
Larutan Lugol
Larutan Lugol adalah larutan yang sering digunakan untuk menguji adanya kandungan amilum. Cara membuatnya adalah sebagai berikut:
(1) Larutkan 6 gram KI dalam 100 ml air suling.
(2) tambahkan 3 gram kristal iodium, aduk sampai rata.
(3) Saat akan digunakan, larutan tersebut harus diencerkan dengan air suling. Perbandingannya 1:10.

Pemeriksaan Benda Keton Dalam Urine
Badan keton terdiri dari 3 senyawa, yaitu aseton, asam aseotasetat, dan asam β-hidroksibutirat, yang merupakan produk metabolisme lemak dan asam lemak yang berlebihan. Badan keton diproduksi ketika karbohidrat tidak dapat digunakan untuk menghasilkan energi yang disebabkan oleh : gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes mellitus yang tidak terkontrol), kurangnya asupan karbohidrat (kelaparan, diet tidak seimbang : tinggi lemak – rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal), atau gangguan mobilisasi glukosa, sehingga tubuh mengambil simpanan asam lemak untuk dibakar.

Peningkatan kadar keton dalam darah akan menimbulkan ketosis sehingga dapat menghabiskan cadangan basa (mis. bikarbonat, HCO3) dalam tubuh dan menyebabkan asidosis. Pada ketoasidosis diabetik, keton serum meningkat hingga mencapai lebih dari 50 mg/dl.

Keton memiliki struktur yang kecil dan dapat diekskresikan ke dalam urin. Namun, kenaikan kadarnya pertama kali tampak pada plasma atu serum, kemudian baru urin. Ketonuria (keton dalam urin) terjadi akibat ketosis. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat.


Prosedur

Kumpulkan spesimen urine secara acak (urin random atau urin sewaktu). Urin harus segar dan ditampung dalam wadah tertutup rapat. Pengujian harus segera dilakukan, karena penundaan pengujian lebih lama dapat menyebabkan temuan negatif palsu. Hal ini dikarenakan keton mudah menguap. Uji ketonuria dapat dilakukan dengan menggunakan tablet Acetest, atau strip reagen (dipstick) Ketostix atau strip reagen multitest (mis. Combur, Multistix, Arkray, dsb).

Uji ketonuria dengan tablet Acetest digunakan untuk mendeteksi dua keton utama, yaitu aseton dan asam asetoasetat. Letakkan tablet Acetest di atas kertas saring atau tissue, lalu teteskan urin segar di atas tablet tersebut. Tunggu selama 30 detik. Amati perubahan warna yang terjadi pada tablet tersebut; jika berubah warna menjadi berwarna lembayung terang – gelap, maka uji keton dinyatakan positif.

Uji ketonuria dengan strip reagen (Ketostix atau strip reagen multitest) lebih sensitif terhadap asam asetoasetat daripada aseton. Celupkan strip reagen ke dalam urin. Tunggu selam 15 detik, lalu amati perubahan warna yang terjadi. Bandingkan dengan bagan warna. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual.


Nilai Rujukan

Dewasa dan anak : uji keton negatif (kurang dari15 mg/dl)


Masalah Klinis

Uji keton positif dapat dijumpai pada : Asidosis diabetic (ketoasidosis), kelaparan atau malnutrisi, diet rendah karbohidrat, berpuasa, muntah yang berat, pingsan akibat panas, kematian janin. Pengaruh obat : asam askorbat, senyawa levodopa, insulin, isopropil alkohol, paraldehida, piridium, zat warna yang digunakan untuk berbagai uji (bromsulfoftalein dan fenosulfonftalein).


Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium
  • Diet rendah karbohidrat atau tinggi lemak dapat menyebabkan temuan positif palsu. • Obat tertentu (Lihat pengaruh obat)
  • Urin disimpan pada temperature ruangan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan hasil uji negaif palsu
  • Adanya bakteri dalam urin dapat menyebabkan kehilangan asam asetoasetat
  • Anak penderita diabetes cenderung mengalami ketonuria daripada penderita dewasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar